Kamu sudah rajin menulis artikel di website, tapi pengunjungnya tetap sepi? Bisa jadi masalahnya bukan di tulisanmu, tapi di kata yang kamu pilih. Orang mencari di Google dengan kata-kata mereka sendiri, dan kata itu belum tentu sama dengan yang kamu pakai.
Di artikel ini, saya bahas cara riset keyword dalam 6 langkah, cukup dengan tools gratis. Supaya tidak cuma teori, saya juga tunjukkan contoh riset nyata untuk sebuah toko kue rumahan, lengkap dengan angka dan screenshot-nya. Ada juga beberapa “jebakan” yang saya temukan sendiri saat melakukan riset ini.
Apa Itu Riset Keyword?
Riset keyword adalah proses mencari kata atau frasa yang benar-benar diketik orang di Google saat mencari sesuatu yang berhubungan dengan bisnis atau topikmu.
Kuncinya ada di kata “benar-benar”. Pemilik toko kue mungkin mengira orang mencari “kue tart premium”, padahal yang paling banyak diketik ternyata “kue ulang tahun anak”. Riset keyword membantumu berhenti menebak dan mulai memakai data.
Dari riset keyword, kamu akan tahu tiga hal:
- Berapa banyak orang yang mencari kata itu setiap bulan (volume pencarian).
- Seberapa sulit bersaing untuk muncul di halaman pertama (keyword difficulty).
- Apa sebenarnya yang mereka cari: informasi, inspirasi, atau ingin membeli (search intent).
Dengan tiga data ini, kamu bisa memilih keyword yang realistis untuk dikejar, bukan sekadar yang paling populer.
Kenapa Riset Keyword Penting untuk Website Bisnis Kecil
Pemilik bisnis kecil biasanya punya waktu dan budget terbatas. Menulis satu artikel saja bisa makan waktu berjam-jam. Sayang sekali kalau artikel itu ditulis untuk kata yang tidak pernah dicari orang, atau untuk kata yang mustahil dimenangkan.
Website baru juga hampir tidak mungkin bersaing di keyword umum yang dikuasai website besar. Tapi bukan berarti tidak ada peluang. Saat saya mengecek hasil Google untuk “cara riset keyword”, ternyata ada blog kecil dengan Domain Authority (DA) 16 yang berhasil masuk halaman pertama, bersaing dengan website ber-DA di atas 50.
Domain Authority adalah skor 0–100 dari Moz, salah satu tools SEO, untuk memperkirakan seberapa kuat sebuah website di mata mesin pencari. Makin tinggi skornya, makin sulit disaingi. Skor ini bukan dari Google, tapi cukup berguna sebagai gambaran.
Kuncinya: memilih keyword yang tepat dan membahasnya lebih lengkap. Contohnya bisa kamu lihat di project riset keyword niche lari pemula saya.
Itulah gunanya riset keyword. Kamu jadi tahu:
- Kata mana yang layak dikejar, karena ada yang mencari dan persaingannya masih masuk akal.
- Kata mana yang sebaiknya dilewati, karena terlalu sulit atau pencarinya bukan calon pembeli.
- Konten apa yang perlu dibuat: artikel blog, halaman produk, atau cukup Google Business Profile.
Dengan begitu, setiap artikel yang kamu tulis punya peluang nyata untuk ditemukan.
Tools Riset Keyword Gratis yang Bisa Kamu Pakai
Kamu tidak perlu langganan tools mahal untuk mulai riset keyword. Lima tools gratis ini sudah cukup untuk bisnis kecil, dan semuanya saya pakai dalam contoh di artikel ini.
Google Autocomplete dan People Also Ask
Tools paling sederhana justru Google sendiri. Saat kamu mengetik di kolom pencarian, Google menampilkan saran otomatis (autocomplete) berdasarkan apa yang sering dicari orang. Di halaman hasil pencarian, ada juga kotak “Orang juga bertanya” (People Also Ask) yang berisi pertanyaan nyata dari pengguna.
Kelebihannya: gratis, tanpa daftar, dan datanya langsung dari Google. Kekurangannya: tidak ada angka volume pencarian.


Ubersuggest
Ubersuggest menampilkan volume pencarian, keyword difficulty (SEO Difficulty), dan ide keyword lain yang berhubungan. Tampilannya mudah dipahami pemula.
Versi gratisnya dibatasi kredit harian. Saat menyusun artikel ini, kredit saya sempat habis di tengah riset, jadi pilih keyword yang mau dicek dengan cermat.

Ahrefs Keyword Generator
Ahrefs punya Keyword Generator gratis yang bisa dipakai tanpa login. Hasilnya berupa ide keyword, perkiraan volume dalam bentuk rentang (misalnya >1.000), dan label tingkat kesulitan seperti “Easy”.
Jumlah hasil versi gratisnya terbatas, tapi sangat berguna untuk cek silang angka dari Ubersuggest. Nanti kamu akan lihat kenapa ini penting.

Google Keyword Planner
Keyword Planner adalah tools dari Google untuk pengiklan, jadi datanya berasal langsung dari Google. Untuk memakainya, kamu perlu akun Google Ads, tapi tidak harus memasang iklan.
Kekurangannya: kalau tidak menjalankan iklan, volume pencarian biasanya hanya ditampilkan dalam rentang (misalnya 100–1.000), bukan angka pasti.
Google Trends
Google Trends tidak menampilkan jumlah pencarian. Yang ditampilkan adalah naik-turunnya minat terhadap sebuah kata dari waktu ke waktu, dalam skala 0–100.
Tools ini sangat berguna untuk bisnis musiman. Lihat grafik “kue lebaran” selama 5 tahun terakhir: pencariannya hampir datar sepanjang tahun, lalu melonjak tajam menjelang Lebaran. Lonjakannya juga bergeser lebih awal setiap tahun, mengikuti tanggal Lebaran. Jadi, halaman produk kue lebaran perlu terbit beberapa minggu sebelum lonjakan itu dimulai.

Cara Riset Keyword dalam 6 Langkah
Enam langkah ini saya pakai sendiri saat menyusun artikel yang sedang kamu baca. Jadi contoh di setiap langkah adalah data asli, bukan karangan.
1. Tentukan Topik dan Seed Keyword
Mulailah dari hal yang paling kamu pahami: produk, layanan, atau topik bisnismu. Lalu tulis 5–10 kata dasar yang menggambarkannya. Kata-kata dasar ini disebut seed keyword.
Untuk artikel ini, seed keyword saya adalah “riset keyword”, “cara riset keyword”, dan “tools riset keyword”. Untuk toko kue, seed keyword-nya bisa berupa “kue ulang tahun”, “brownies panggang”, atau “kue lebaran”.
Tidak perlu sempurna. Seed keyword hanya titik awal, dan nanti akan berkembang di langkah berikutnya.
2. Cek Volume dan Keyword Difficulty
Masukkan seed keyword ke Ubersuggest atau Ahrefs Keyword Generator, dengan lokasi Indonesia. Perhatikan dua angka:
- Volume pencarian: perkiraan berapa kali kata itu dicari setiap bulan.
- Keyword Difficulty (KD): perkiraan seberapa sulit masuk halaman pertama, biasanya skala 0–100. Makin kecil, makin mudah.
Ini cara melihat keyword yang banyak dicari. Tapi ingat, angka terbesar belum tentu pilihan terbaik. Hasil riset saya:
| Keyword | Volume | KD |
| riset keyword | 140 | 32 |
| cara riset keyword | 50 | 12 |
| tools riset keyword | 50 | 22 |
“Riset keyword” volumenya paling besar, tapi KD-nya juga paling tinggi. Untuk website yang masih baru, “cara riset keyword” lebih realistis: volumenya lumayan dan KD-nya hanya 12.


3. Pahami Search Intent
Search intent adalah alasan di balik pencarian: apa yang sebenarnya diinginkan orang saat mengetik kata itu. Ada empat jenis:
| Jenis intent | Yang dicari | Contoh |
| Informational | Informasi atau cara | cara riset keyword |
| Commercial | Membandingkan sebelum membeli | kue ulang tahun anak |
| Transactional | Siap membeli | pesan kue ulang tahun |
| Navigational | Website atau merek tertentu | brownies amanda |
Cara paling mudah mengecek intent: ketik keyword-nya di Google dan lihat hasilnya. Kalau hasilnya artikel tutorial, intent-nya informational. Kalau hasilnya toko online dan halaman produk, intent-nya transactional.
Langkah ini sering dilewati, padahal paling menentukan. Keyword dengan volume besar tidak ada gunanya kalau orang yang mencarinya tidak membutuhkan apa yang kamu tawarkan.
4. Cek Hasil Pencarian di Google
Sebelum memutuskan, lihat siapa saja yang sudah ada di halaman pertama. Perhatikan tiga hal:
- Jenis website-nya: media besar, toko online, atau blog kecil?
- Kekuatan website-nya: cek Domain Authority dengan extension SEO gratis di browser, misalnya MozBar atau SEOquake. Angkanya akan muncul langsung di bawah setiap hasil pencarian, seperti di screenshot ini.
- Format kontennya: tutorial, daftar (listicle), video, atau halaman produk?
Untuk “cara riset keyword”, halaman pertama diisi media karier, perusahaan hosting, platform kursus, dan satu blog kecil ber-DA 16. Ada juga tiga video YouTube. Kesimpulan saya: keyword ini masih bisa dimenangkan website kecil, dan pembaca butuh contoh visual. Karena itulah artikel ini penuh screenshot.

5. Cari Long-Tail Keyword dan Pertanyaan
Long-tail keyword adalah frasa yang lebih panjang dan spesifik, misalnya “cara riset keyword gratis” atau “brownies panggang tahan berapa lama”. Volumenya kecil, tapi persaingannya juga rendah dan maksud pencariannya lebih jelas.
Kamu bisa menemukannya gratis langsung di Google:
- Autocomplete: saran yang muncul saat kamu mengetik.
- People Also Ask: pertanyaan yang sering diajukan orang.
- Pencarian terkait: daftar di bagian paling bawah halaman hasil.
Pertanyaan dari People Also Ask juga bisa langsung dijadikan subjudul atau bagian FAQ, seperti yang saya lakukan di artikel ini.

6. Pilih Keyword Prioritas
Terakhir, saring semua temuanmu dengan tiga pertanyaan:
- Apakah KD-nya realistis? Untuk website baru, pilih yang KD-nya rendah.
- Apakah intent-nya cocok dengan konten atau produkmu?
- Apakah relevan dengan bisnismu? Keyword populer yang tidak nyambung hanya mendatangkan pengunjung yang langsung pergi.
Pilih satu keyword utama per halaman, lalu beberapa keyword pendukung yang masih berkaitan. Untuk artikel ini, keyword utamanya “cara riset keyword”, dengan keyword pendukung “riset keyword”, “tools riset keyword”, dan “riset keyword gratis”. Hasil seperti ini bisa langsung dipakai untuk menulis artikel, seperti artikel program latihan lari untuk pemula yang lahir dari riset saya.
Contoh Riset Keyword untuk Toko Kue Rumahan
Supaya lebih jelas, saya praktikkan 6 langkah tadi untuk sebuah toko kue rumahan fiktif di Depok. Toko ini menjual kue ulang tahun, brownies, dan kue kering saat Lebaran. Pemiliknya ingin websitenya mendatangkan pesanan dari Google.
Seed Keyword dan Datanya
Saya mulai dari produk yang dijual: “kue ulang tahun”, “brownies panggang”, “kue lebaran”, “pesan kue ulang tahun”, dan “toko kue terdekat”. Lalu saya cek di Ubersuggest dan Ahrefs. Hasilnya:
| Keyword | Volume | KD | Intent |
| toko kue terdekat | 246K | 21 | Lokal |
| kue lebaran | 18,1K | 21 | Campuran, musiman |
| brownies panggang | 5,4K | 11 | Campuran |
| kue lebaran kering | 2,4K | 26 | Commercial |
| kue lebaran apa saja | 1,9K | 17 | Informational |
| toko kue depok | 720 | 19 | Lokal, siap beli |
| kue ulang tahun anak | >10.000* | Easy* | Inspirasi lalu beli |
| pesan kue ulang tahun | <100* | Easy* | Siap beli |
*Data Ahrefs. Data lainnya dari Ubersuggest.


Menyaring Berdasarkan Intent
Sekilas, “toko kue terdekat” (246K) terlihat paling menggiurkan. Tapi saat dicek di Google, pencarian “terdekat” dijawab oleh Google Maps, bukan artikel. Jadi keyword ini dikejar lewat Google Business Profile, bukan lewat konten website.
“Brownies panggang” juga perlu dicek ulang. Di Ahrefs, keyword yang paling banyak muncul bersamanya justru “resep brownies panggang” dan “cara membuat brownies panggang”. Artinya, banyak pencarinya ingin membuat sendiri, bukan membeli.
Beberapa keyword lain langsung saya coret karena berisi merek toko lain, seperti “brownies panggang amanda” dan “brownies panggang kartika sari”.
Hasil Akhir: 3 Keyword Prioritas
| Prioritas | Keyword Utama | Keyword Pendukung | Dipakai untuk |
| 1 | toko kue depok | – | Halaman utama dan Google Business Profile |
| 2 | kue ulang tahun anak | pesan kue ulang tahun, brownies panggang ultah | Halaman produk dengan galeri desain dan tombol pesan |
| 3 | kue lebaran kering | kue lebaran kaleng | Halaman produk musiman |
| Bonus | kue lebaran apa saja | – | Artikel blog yang mengarah ke halaman produk |
Kenapa tiga ini?
- Toko kue depok: volumenya tidak besar, tapi pencarinya sudah siap membeli dan persaingannya hanya di tingkat kota.
- Kue ulang tahun anak: banyak dicari, dan orang yang mencari inspirasi desain bisa langsung diarahkan untuk memesan.
- Kue lebaran kering: musiman. Dari Google Trends terlihat lonjakannya selalu menjelang Lebaran, jadi halamannya perlu siap beberapa minggu sebelumnya.
Dari riset ini, pemilik toko tahu persis halaman apa yang perlu dibuat, untuk siapa, dan kapan. Tidak lagi menebak-nebak.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Riset Keyword
Saat melakukan riset untuk contoh toko kue di atas, saya menemukan beberapa “jebakan” yang mudah sekali terlewat. Ini lima kesalahan yang paling sering terjadi, lengkap dengan buktinya.
1. Hanya Percaya Satu Tool
Data dari tools SEO adalah perkiraan, bukan angka pasti, dan kadang bisa keliru. Contoh paling jelas dari riset saya: keyword “kue ulang tahun” tercatat 0 di Ubersuggest, tapi lebih dari 10.000 di Ahrefs. Padahal jelas sekali banyak orang mencari kue ulang tahun.
Kalau hanya memakai satu tool, keyword sebagus ini bisa dibuang begitu saja. Biasakan cek silang dengan tool kedua, terutama untuk keyword yang angkanya terasa aneh.

2. Mengejar Volume Besar Tanpa Cek Intent
“Resep brownies panggang” dicari lebih dari 1.000 kali per bulan. Kedengarannya menarik untuk toko brownies. Tapi orang yang mencari resep ingin membuat sendiri, bukan membeli.
Sebelum memilih keyword, selalu tanyakan: apakah orang yang mencari kata ini adalah calon pelangganku? Hal serupa saya temukan saat mengaudit artikel kompetitor: kata yang dicari orang justru tidak dipakai sama sekali.

3. Memakai Keyword Merek Orang Lain
Saat mencari ide dari “brownies panggang”, muncul banyak keyword seperti “brownies panggang amanda” dan “brownies panggang kartika sari” dengan volume ratusan. Tapi orang yang mencari keyword ini ingin ke toko tersebut, bukan ke tokomu.
Mengejar keyword merek orang lain hanya membuang waktu, dan bisa membingungkan pembaca.
4. Mengejar Keyword “Terdekat” Lewat Artikel
“Toko kue terdekat” dicari 246.000 kali per bulan. Angka yang menggiurkan, tapi coba ketik di Google: yang muncul paling atas adalah peta dan daftar toko di Google Maps, bukan artikel.
Untuk keyword dengan kata “terdekat”, caranya adalah membuat dan merapikan Google Business Profile: alamat, jam buka, foto produk, dan ulasan pelanggan. Bukan menulis artikel.

5. Mengabaikan Keyword Bervolume Kecil
“Pesan kue ulang tahun” hanya dicari kurang dari 100 kali per bulan menurut Ahrefs. Sedikit sekali dibanding “kue ulang tahun” yang lebih dari 10.000.
Tapi lihat kata “pesan”: orang yang mengetiknya sudah siap membeli. Sepuluh pengunjung yang siap memesan jauh lebih berharga daripada seribu pengunjung yang hanya melihat-lihat gambar. Jangan buang keyword kecil yang niatnya jelas.

FAQ
Berapa volume pencarian yang bagus untuk website baru?
Tidak ada angka pasti. Untuk website baru, keyword dengan volume puluhan sampai ratusan per bulan dan KD rendah justru lebih realistis daripada keyword ribuan yang persaingannya ketat. Yang lebih penting dari volume adalah intent: apakah pencarinya calon pelangganmu.
Bagaimana cara melihat keyword yang banyak dicari?
Masukkan keyword ke tools seperti Ubersuggest atau Ahrefs Keyword Generator, pilih lokasi Indonesia, lalu lihat kolom volume. Untuk ide gratis tanpa angka, perhatikan saran autocomplete dan kotak “Orang juga bertanya” di Google.
Apakah riset keyword bisa dilakukan tanpa tools berbayar?
Bisa. Semua contoh di artikel ini dikerjakan dengan tools versi gratis. Kekurangannya, jumlah pencarian per hari terbatas dan angkanya berupa perkiraan. Karena itu, pakai minimal dua tools untuk cek silang.
Berapa lama artikel bisa muncul di halaman pertama Google?
Tergantung persaingan keyword dan kekuatan website-mu. Artikel baru biasanya perlu waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan untuk naik peringkat. Memilih keyword dengan KD rendah membantu prosesnya lebih cepat.
Kesimpulan
Riset keyword tidak harus rumit atau mahal. Dengan 6 langkah dan tools gratis, kamu bisa menemukan kata yang benar-benar dicari calon pelanggan: tentukan seed keyword, cek volume dan KD, pahami intent, lihat hasil Google, cari long-tail, lalu pilih prioritas.
Yang paling penting, jangan hanya melihat angka terbesar. Seperti contoh toko kue tadi, keyword kecil dengan niat beli sering lebih berharga daripada keyword ramai yang pencarinya hanya melihat-lihat.
Kalau kamu tidak punya waktu untuk riset sendiri, saya bisa membantu. Saya menyusun riset keyword lengkap dengan analisis kompetitor dan daftar prioritas yang siap dipakai untuk konten. Lihat contoh hasil riset saya atau hubungi saya untuk berdiskusi.
